Disaat hari Natal sudah tiba, berarti waktunya suasana jalan di berbagai belahan dunia akan dimeriahkan oleh hiasan dekorasi-dekorasi meriah salah satunya Pohon Cemara sebagai pohon Natal dan musik untuk menyambut perayaan adanya umat Kristiani. Dengan begini, atmosfer perayaan juga sudah terasa jauh lebih meriah dan lebih ramai. Namun walau begitu tampaknya tidak semua negara maupun daerah di dalamnya mengalami perasaan senang atas kehadiran perayaan natal ini. Sebab di beberapa negara, perayaan natal ini dilarang dan menjadikan negara tersebut menjalani Intoleransi dalam beragama bagi masyarakat luas. 

Seandainya kalian sedang berada di Amerika Serikat, lalu Australia dan juga Eropa, maka pada umumnya di sana akan mengadakan perayaan natal dengan besar-besaran dan berbeda dari kawasan lainnya. Umumnya natal akan identik dengan pohon natal yang menyala – lalu adanya Tuan Santa Claus yang membawa kado untuk anak kecil baik – dan tradisi dari tukar kado. Namun beberapa negara yang ada di bawah ini menjadi negara Intoleransi yang tidak memperbolehkan merayakan Natal bagi umat Kristen di sana. 

Negara Intoleransi Tajikistan 

Yang pertama kali adalah negara Tajikistan. Dimana Kementerian Pendidikan di Tajikistan ini mengeluarkan adanya dekrit hanya untuk perayaan tahun baru dengan melarang langsung : 

  • Pada penggunaan permainan kembang api
  • Terhadap acara makan yang meriah, sampai dengan 
  • Tidak diperbolehkannya melakukan pemberian hadian dan pengumpulan uang. 

Selain itu, dekrit di negara ini sudah melarang pemasangan pohon natal, baik itu yang ditebang maupun hanya buatan untuk sekolah dan juga universitas. Berbeda lagi dengan negara pecahan dari Uni Soviet lainnya yang merayakan natal, dimana negara sekuler yang satu ini tidak akan merayakannya. Argumen mengenai hal ini akan menyebabkan banyak sekali kasus kekerasan dan salah satunya pada penikaman hingga meninggalnya seorang pria berjubah santa pada tahun 2011 silam. Insiden ini sudah terjadi beberapa hari sebelum ulama terkemuka yang ada di sana mendesak langsung umat islam untuk tidak melakukan partisipasi dalam liburan natal dan juga tahun baru. 

Negara Intoleransi  Somalia 

Selain Tajikistan, rupanya Negara Somalia juga melakukan hal yang sedemikian rupa samanya. Melalui Sheikh Mohammed Keyrow yakni seorang Direktur Kementerian Agama sudah memutuskan untuk melarang perayaan natal dan juga tahun Baru. Hal ini sudah dilangsungkan oleh alasan mereka menganggap bahwa perayaan natal tidak ada sama sekali kaitannya dengan Agama Islam. 

Selain itu Jubir dari Walikota mogadishu yang bernama Abdifatah juga mengatakan ada 2 alasan kuat yang mendukung hal ini. Soalnya Rata-rata yang tinggal di Somalia merupakan Muslim dan tidak terdapatnya Komunitas Kristen di negara tersebut. Selain itu mereka semua juga tahu jika Natal hanya dilakukan oleh mereka yang beragama Kristen saja. Hal ini kami lansir langsung dari 99.co yang di dapatkan di situs cnnindonesia.com. Adapun hal lainnya bahwa Pihak Berwenang yang ada di negara Somalia ini menyebutkan bahwa perayaan natal bisa sekali menjadi pemicu atas serangan militan Islam al Shabaab. 

Negara Intoleransi Maroko 

Mungkin negara ini sama dengan negara Somalia, yang mana penduduknya mayoritas Islam. Jelas dengan begini negara Maroko tidak akan merayakan Natal sebagai sebuah acara atas perayaan hari keagamaan yang besar. Walaupun di beberapa tempat kalian mungkin saja sudah menemukan beberapa sentuhan atau ornamen Natal di dalamnya. 

Hal ini memang terjadi akibat Maroko sudah mendapat pengaruh Perancis dan Spanyol saat dijajah pada tahun 1800 an. Namun tidak usah sedih, meski begitu tidak akan mudah untuk menemukan kelap kelip lampu Natal yang ada di maroko. Kalian bisa saja tetap menyaksikan Indahnya ratusan lentera berwarna Cerah di saat sedang menyambangi Marrakech yang begitu menawan. Jika disini kalian ingin melihat adanya perayaan yang meriah di Maroko, maka bisa datang langsung pada hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. dijamin kalian akan langsung mendapatkan pengalaman yang berkesan sepanjang perjalanan. 

Negara Intoleransi Mesir 

Di negara yang satu ini masih ada perayaan Natal. Dimana hari raya Natal hanya akan dirayakan oleh sekitar 15% penduduk Mesir yang memang beragama kristen atau biasa dikenal sebagai Kristen Ortodoks Koptik Alexandria. Hanya saja perayaan Natalnya memang tidak dilakukan pada Bulan Desember dan tidak benar-benar dilakukan secara besar-besaran seperti halnya Negara Amerika dan Eropa lainnya. Sama saja seperti para penganut Agama Kristen Ortodoks yang ada di Rusia dan juga Serbia. Yang mana Natal di Mesir baru akan sesegera mungkin dirayakan pada tanggal 7 Januari sesuai pemakaian dari Kalender Julian Kuno. Nah untuk kalian yang memang memiliki keinginan untuk merayakannya, maka Natal dua kali dalam setahun. Dan disini kalian bisa memasukkan Mesir  ke dalam Bucket List Negara yang mana mesti sekali dikunjungi pada awal tahun hanya untuk berlibur saja. 

Negara Intoleransi Korea Utara 

Kalian harus ingat, bahwa ada Korea Utara dan juga Selatan. Nah dari tahun 1948, pemerintah bagian Kota Utara ini menindak kebebasan beragama. Dan sejak saat ini, Natal tidak dirayakan lagi secara terbuka disana. Dilansir dari Expres oleh kutipan situs kumparan.com, bahwa konstitusi korea Utara sebenarnya secara teknis mengizinkan penduduknya untuk bebas memilih agama. Namun siapa saja yang memang ketahuan merayakannya di tempat umum, tidak segan-segan untuk dipenjarakan. Dan pada tahun 2016 silam, Kim Jong Un sudah melarang secara total Natal untuk bisa dirayakan di negaranya tersebut. Sebaliknya, bahwa seluruh warga negara korea Utara harus dituntut untuk bisa melakukan penghormatan pada neneknya, yakni Kim Jong Suk yang lahirnya tepat tanggal 24 Desember pada tahun 1917 dan meninggalnya di tahun 1949 silam. 

Negara Intoleransi Maladewa 

Tempat ini terkenal akan pantainya yang bersih dan air lautnya yang jernih berwarna kebiruan. Maladewa sendiri sudah masuk ke dalam daftar negara yang tidak akan merayakan adanya hari natal ! sebab di sana terdapat 99% lebih para penduduk asli Maladewa ini adalah seorang Muslim. Jadi wajar saja jika Natal tidak dijadikan prioritas hari besar disana. Dilansir oleh kumparan.com pada situs maldives independent, bahwa merayakan natal di Maladewa ini menjadi salah satu aktivitas yang dilarang keras oleh pihak Pemerintahnya yang dianggap benar-benar bertentangan dengan Islam dan juga Budaya Maladewa. Walau begitu, masih ada beberapa Guest House resort yang dapat memberikan hiburan berupa hiasan Ornamen Natal di penginapannya. Hal inilah yang memang dilakukan untuk bisa menyenangkan para tamu yang menginap sekaligus sebagai bentuk dari persiapan untuk merayakan hari Tahun Baru. 

Negara Intoleransi Mongolia 

Untuk Mongolia sendiri sudah menjadi negara dengan beragam tradisi Kuno, yakni dengan tradisi berburu Elang. Nah saking populernya, Tradisi ini sendiri bisa berubah menjadi kompetisi dan juga atraksi wisata. Namun jangan berharap kalian ini bisa menemukan natal sebagai salah satu tradisi yang diantaranya. Sebab dengan resmi, negara Mongolia ini menjadi negara Buddha, dimana mayoritasnya memeluk agama Buddha. Sehingga Natal yang seharusnya diperingati setiap tanggal 25 Desember ini tidak akan terasa seperti halnya hari yang meriah. Setiap orang pada tanggal 25 Desember di Mongolia akan melakukan aktivitas seperti pada umumnya saja, tidak akan berbeda dengan hari lainnya. Namun akan berbeda lagi dengan adanya Tahun Baru Imlek, dimana kalian bisa menemukan berbagai macam pesta di jalanan layaknya Kembang Api yang meriah dan juga pohon Tahun baru yang diisi dengan Amplop harapan.