Sosok sang penyihir memang diceritakan sudah ada sejak zaman dahulu dan sangat melegenda di setiap wilayah. Di Indonesia sendiri mungkin ada, namun masuk ke dalam agama yang sesat alias praktek yang selalu berhubungan dunia setan. Penyihir ini digambarkan sebagai sosok yang sangat menakutkan dan juga sangat amat dibenci. Dan keberadaan dari Penyihir ini sudah tercatat dalam sejarah di seluruh penjuru dunia. Waktu abad ke-16 di Eropa sana, yakni Inggris ada sosok penyihir yang benar-benar diburu. Sosok ini diincar oleh Raja James l yang benar-benar menyerukan adanya permusuhan dengan sosok apapun itu yang berbau pada dunia Sihir serta Gaib. 

Setelah dirinya menduduki adanya kursi Kerajaan, sang raja akhirnya membuat sebuah buku yang laris terjual dalam judul “ DAEMONOLOGIE” yang isinya mengenai sihir-sihir jahat ! obsesi hingga ketidaksukaan sang raja terhadap dunia sihir ini mampu membuat dirinya untuk membujuk para parlemen dalam membuat Witchcraft Statue. Dan sesuai dengan ketentuan tersebut, orang yang nantinya terlibat akan segala hal yang berbau sihir mau tidak mau harus mengalami hukuman MATI ! 

Tak sampai situ saja, nyatanya Raja James l juga membakar adanya api kecemasan publik terhadap segala hal yang berbau sihir dan juga penyihir. Setelah 1 dekade sejak Statue ini dijalankan, banyak sudah kebijakan ini memakan individu-individu yang tertuduh, tertangkap, diadili hingga mendapatkan hukuman mati terhadap tuduhan di dalam praktik ilmu sihir ini. Selain di negara Inggris, perburuan dari Penyihir ini juga semakin berlangsung di beberapa negara. Bahkan di masa modern juga masih ada perburuan tersebut dengan eksekusi-eksekusi yang tak kalah sadis dari yang sudah dilakukan oleh Raja James l di Inggris. Berikut ini, akan kami berikan beberapa eksekusi penyihir paling sadis dan terkenal sepanjang masa ! yuk cek seperti apa eksekusi yang pernah ada bagi para penyihir ini ! 

Berburu Penyihir Massal di Negara Skotlandia 

Jadi perburuan Massal terbesar di dalam sejarah negara Skotlandia sudah dimuat di beberapa media dan menyebar layaknya kobaran api yang menyala di musim kemarau. Awal dari perburuan ini sendiri terjadi di desa kecil pada kawasan Edinburgh. Di sana sudah tertuduh sebanyak 200 orang sebagai penyihir hanya dalam kurun waktu 9 bulan saja. 

Dan sebelum tahun 1662 berakhir, total sudah kedapatan 660 orang yang tertuduh sebagai seorang penyihir. Laporan mengenai berapa banyak orang-orang tersebut dieksekusi sangat amat bervariasi. Ada bukti yang kuat yakni terdiri dari 65 orang yang dibawa langsung ke pengadilan dan juga dieksekusi ( menurut cerita, 1 ada yang bunuh diri ). Namun ada juga nih beberapa perkiraan yang dibunuh itu mencapai 450 orang dan kebanyakan eksekusinya adalah dengan “ Dibakar Hidup-Hidup ! “ … dan disini menurut ahli sejarah menghubungkan perburuanya sampai pada akhir kekuasaan Inggris di wilayah tersebut. 

Lalu Hakim Inggris tidak bersedia dalam menuntut siapa sebenarnya tersangka dari penyihir di negara Skotlandia. Jadi begitu Inggris pergi dari sana, barulah orang-orang di Skotlandia ini mengeksekusi para penyihir. Dan disini parahnya pejabat gereja juga berperan di dalam perburuan tersebut. Mereka benar-benar mengambil kesempatan untuk membangun kembali adanya posisi sebagai pemain terkuat setelah kepergian Inggris. 

Kisah dari berakhirnya “ Great Witch Hunt’s Hunt “ ini sangat amat sederhana. Dimana Otoritas sekuler sudah bosan dengan kepanikan dan juga histeria tersebut. Sejumlah tersangka penyihir dibebaskan dan orang-orang yang bertanggung jawab untuk menemukan para penyihir ini akhirnya ditangkap dan tidak ada lagi pemberian atas wewenang tersebut. Enteng ya, sudah bosan memburu dan membakar mungkin orang tak bersalah jadi berhenti begitu saja. Sungguh KEJAM ! 

Pembunuhan penyihir Paling Besar di Eropa 

Mungkin ini menjadi sebuah pengadilan penyihir terbesar yang pernah terjadi di Eropa sejak tahun 1581 hingga 1593, yang mana diawali langsung oleh kawasan pedesaan di Tier sampai dengan kota-kota besar di sana. Jadi pada tahun 1581 pada saat Johann von Schonburg ditunjuk langsung sebagai uskup di Tier, bahwa dia mengklaim bahwa dirinya ini adalah Jesuit garis keras yang mampu menghukum para protestan, yahudi dam yang benar-benar mereka curigai sebagai sosok penyihir. 

Penuduh Khusus, lalu Inquisitor, Notaris, Juri, Hakim dan juga petugas Polisi ini mampu menyeret adanya 3 golongan kelompok orang-orang ini ke pengadilan dan langsung saja menyiksanya tanpa pandang bulu mereka ini berjenis kelamin apa dan sudah berusia berapa tahun. Cerita yang beredar, beberapa terdakwa yang dinyatakan lolos dari penjara ini rupanya diberikan hukuman dengan dibakar dan korban-korban tersebut ada yang termasuk sebagai beberapa orang terkemuka di kota Tier seperti halnya : Hakim – Pastor Paroki – dan sisanya adalah para Dekan Pedesaan yang ada di berbagai gereja pada perguruan tinggi atau sejenisnya. 

Lalu mulai di antara tahun 1587 dan juga 1593 sudah ada 368 orang yang dibakar hidup-hidup dikarenakan, diduga sebagai penyihir di 22 desa yang ada. Semua korban ini adalah perempuan dan hanya 2 desa saja yang mampu dalam menyisakan satu perempuan. Hampir sepertiganya itu berasal langsung dari para bangsawan atau memang memiliki peran sebagai pemegang dari jabatan di pemerintah. Dietrich Flade, Rektor Universitas hingga hakim utama dalam pengadilan ini, menyatakan atas sebuah keberatan terhadap penganiayaan terutama sekali dalam hal penyiksaan. Sebab itulah, dirinya langsung ditangkap, disiksa, dicekik dan pada akhirnya di bakar. 

Terdapat seorang Ilmuwan dan juga profesor terkemuka lainnya yang ada disana, yakni Cornelius Loos di penjara dan juga disiksa langsung di depan umum karena menolak pandangan mengenai pengadilan bagi penyihir yang sudah dirinya ungkapkan dalam sebuah buku yang mengkritik atas dasar penganiayaan tersebut. Karyanya yang sebagai pejabat Katolik pertama secara terbuka telah menentang adanya pengadilan penyihir yang kemudian berkecamuk di seluruh Eropa. Bukannya disita, justru dilarang langsung beredar oleh pejabat Gereja dan juga Manuskrip tersebut benar-benar hilang selama hampir 300 tahun lamanya. 

Eksekusi Berlanjut pada 3 Penyihir Terakhir di Inggris 

Rupanya kejadian di Inggris masih berlangsung pada tahun 1682, dimana terdapat 3 orang perempuan dari desa Bideford di Devon dan sudah menjadi orang terakhir di Inggris yang digantung gara-gara adanya ilmu sihir tersebut. Sebenarnya sampai sekarang tidak tahu apa yang mereka ( Temperance Lloyd, Mary Trembles, & Susannah Edwards ) semua lakukan. Hingga akhirnya mereka ini tertuduh dan membuat wanita setempat Grace Thomas dengan Graces Bernes ini sakit dan memiliki keinginan untuk membunuh mereka. 

Disini nasib dari Temperance Lloyd harus dipaksa mengaku jika dirinya sendiri berurusan dengan “ The Black Man atau berurusan dengan IBLIS “ dari adanya versi cerita rakyat. Walau bertiganya mengaku bersalah selama persidangan berlangsung, tetap saja mereka ini dieksekusi. Penyihir yang ada di Bideford ini harus digantung di Heavitree di luar kota. Walau pada kenyataannya mereka sudah meninggal, tetap saja kasus aneh yang mereka pegang ini masih terus menerus dipersoalkan hingga kini (Maybe). 

Eksekusi yang Melibatkan 100 Orang di Negara Ceko 

Wilayah Moravia Utara sudah menjadi sebuah saksi besar dari adanya sejarah sadis dari perburuan Penyihir di Republik Ceko di abad pertengahan ke -17. Dalam kurun waktu tersebut, sudah ada ratusan wanita yang dibakar di tiang pancang sebagai penyihir dan juga satu percobaan penyihir ini bisa menghasilkan adanya lebih dari 100 eksekusi. Tragedi sendiri dimulai langsung pada sebuah misa ketika adanya seorang anak laki-laki altar melihat ada seorang wanita tua yang mengantongi roti Komuni dan tidak langsung untuk memakannya. 

Ketika adanya pastor yang menanyakan maksud dari sang wanita ini, dirinya sudah menjelaskan bahwa perempuan itu akan memberikan pakan roti ke hewan ternaknya yakni Sapi agar mampu meningkatkan produksi susunya. Dan dari sini Pastor tersebut menganggapnya sebagai tanda sihir dan langsung memberitahu hakim yang mengkhususkan diri dalam kasusnya tersebut. 

Sayangnya dalam sistem peradilan itu benar-benar menghasilkan adanya pendapatan dari persidangan. Ketika para halim dan juga pengadilan menghukum semakin banyak orang untuk pembakaran dimuka umum dan mereka berhasil untuk mendapatkan uangnya. Akibatnya, dari sini banyak cara sudah untuk menemukan jauh lebih banyak penyihir untuk dapat langsung diadili dan juga dieksekusi. Lalu metode lainnya yang mereka lakukan dengan menemukan korban baru serta melibatkan adanya pengumpulan dukun dari warga yang memang peduli. 

Akhirnya dari sini sudah mulai jumlah dari korban yang ada meningkat, sehingga dari penguasa daerah juga mulai khawatir. Dengan adanya segenap kekuatan mereka sebagai penguasa, maka mereka sudah mulai memberikan tekanan politik kepada pemerintah pusat dalam menghentikan persidangan tersebut. Hal tersebut akhirnya terjadi serta orang-orang yang ada di kawasan Moravia Utara sudah dibiarkan dalam bertanya-tanya mengenai bagaimana di Bumi mereka ini mampu memaafkan adanya pembunuhan massa yang sangat amat brutal dalam jangka waktu begitu lama. 

Intinya tindakan dan perbuatan yang tak sejalan dengan apa yang dilakukan pada masa pemerintahan tersebut, membuat orang-orang disana dengan jenis kelamin apapun terjerat penuduhan hingga hukuman sadis yang menimpa kematian tragis mereka masing-masing.